About

PHONE : 085790956780

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kenapa Antivirus Gagal Deteksi Virus Mata-Mata?



Virus mata-mata, seperti Flame atau Stuxnet, menyebar lama sebelum akhirnya terdeteksi produk antivirus. Ada beberapa hal yang diyakini jadi faktor penyebab gagalnya antivirus mendeteksinya. 

Hal itu dikemukakan Alfons Tanujaya, spesialis antivirus Vaksincom, saat dihubungi KompasTekno, Senin (4/6/2012). 

Ia mencatat, setidaknya ada tiga kegagalan industri antivirus yang terjadi baru-baru ini: Stuxnet, Duqu dan Flame. 

Bahkan Flame diyakini sudah melakukan aksinya sejak 2007. Artinya, ada waktu sekitar lima tahun program jahat ini tak terdeteksi antivirus. 

Namun, Alfons mengatakan, kegagalan itu bisa dipahami sepenuhnya. Karena produsen antivirus dunia memang terfokus untuk melawan ancaman yang menyebar luas (massal). 

Apalagi, virus mata-mata seperti Flame atau Stuxnet diduga kuat merupakan produk lembaga pemerintahan. Jelas sumber daya yang dimiliki dalam membuat virus ini lebih luas. 

Tiga level pembuat virus

Alfons mengibaratkan, setidaknya ada tiga level pembuat virus di dunia. Pertama, level mahasiswa yang membuat virus dengan motivasi iseng. 

Kedua, level perusahaan yang memang membuat program jahat dengan tujuan meraup uang. "Ini saja sudah bikin vendor antivirus 'berkeringat' mengejar kegesitan pembuat virus," kata Alfons. 

Nah, level ketiga adalah lembaga pemerintahan yang mungkin memiliki akses dana dan waktu yang praktis tak terbatas. Apalagi virus itu dibuat dengan tujuan spionase. 

Alfons mencontohkan, Flame menggunakan SSL port 443 untuk melindungi traffic-nya. Ini menyulitkan karena selama ini port 443 digunakan oleh layanan e-banking. 

"Produk antivirus mana yang kurang kerjaan scanning traffic di port 443? Wong di-scan saja isinya diacak dan nggak bisa diartikan," tuturnya. 

Hal lain, Flame dikatakan menggunakan bahasa pemrograman cross platform bernama LUA Scripting. Sebuah tools "mahal" yang menurut Alfons hanya lazim dipakai pada tingkat korporasi. 

Siapa takut virus mata-mata?

Untungnya, virus seperti Flame atau Stuxnet dibuat secara spesifik dengan sasaran-sasaran spesifik pula. Artinya, kebanyakan pengguna tak akan jadi sasaran program jahat ini.

"99 persen pengguna internet awam tidak terancam secara langsung, dan bukan sasaran virus ini," tukas Alfons. 

Justru pihak yang perlu menaruh perhatian ekstra pada keberadaan virus mata-mata adalah pemerintah. Khususnya, Departemen Pertahanan dan lembaga intelijen resmi negara. 

Ini karena virus mata-mata memiliki banyak tujuan. Salah satunya adalah menggali informasi penting dari lembaga-lembaga tertentu. 

Alfons pun menegaskan, virus semacam ini tak bisa diatasi hanya dengan memasang antivirus. Perlu ada langkah-langkah keamanan yang lebih lanjut agar bisa mengantisipasi keberadaannya. 

Maka, kembali pada lembaga yang berkepentingan untuk menentukan apakah ancaman semacam ini sudah patut jadi perhatian atau belum. Satu hal yang pasti: mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Thanks to KOMPAS


Facebook Diprediksi Bakal Tutup Tahun 2020



Harga saham Facebook yang tak kunjung menggembirakan telah memicu munculnya prediksi gelap tentang masa depan perusahaan tersebut.

Salah satunya datang dari pendiri Ironfire Capital, Eric Jackson, dalam acara "Squawk on The Street" di stasiun CNBC, Senin (4/6/2012) lalu.

"Dalam lima hingga delapan tahun (2017-2020), mereka (Facebook) bakal lenyap, seperti Yahoo," ujar Jackson, seperti dikutip oleh Mashable. 

Jackson mengacu pada Yahoo! yang nilai perusahaannya berkurang hingga tinggal sepersepuluh dari nilai ketika perusahaan tersebut sedang berada di puncak kejayaannya tahun 2000-an, meskipun sampai sekarang masih mampu menghasilkan profit.

Lalu, mengapa Facebook bisa mengalami nasib serupa? Menurut Jackson, hal tersebut dapat terjadi karena Facebook tak mampu beradaptasi dengan tren penggunaan internet yang mulai bergeser ke arah perangkat mobile.

Dalam deskripsi 35 "faktor risiko" yang diterangkan sebelum melakukan penawaran saham perdananya, Facebook memang mengakui bahwa makin banyak penggunanya yang makin mengakses situs jejaring sosial tersebut dari perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet. 

Hal tersebut menjadi masalah besar karena Facebook tidak bisa menghasilkan uang dari platformmobile miliknya yang bebas iklan.

Situs jejaring sosial ini belakangan diketahui sibuk mencari cara untuk mengapitalisasi basis pengguna mobile-nya. Langkah yang telah dilakukan termasuk mengakuisisi Instagram yang dipandang sebagai rival potensial Facebook pada April lalu.

Sampai sekarang, Facebook masih menganggap pengguna mobile sebagai batu sandungan dalam usahanya mencapai pertumbuhan yang dapat dipertahankan (sustainable).

Mengenai hal ini, Jackson mengatakan, "Facebook bisa saja membeli sejumlah perusahaanmobile, tetapi mereka tetaplah website yang 'gemuk', tidak seperti aplikasi mobile."

Jackson menyamakan kesulitan Facebook dalam beradaptasi terhadap tren penggunaan mobiledengan hambatan yang dihadapi Google dalam membuat jejaring sosial.

Facebook melakukan penawaran saham perdananya (initial public offering/IPO) pada hari Jumat, 18 Mei lalu, dengan harga 38 dollar AS per lembar. Pada penutupan perdagangan Senin (4/6/2012) lalu, harga sahamnya sudah melemah hingga mencapai angka 26,90 dollar AS per lembar.

Thanks to KOMPAS


6 Juta "Password" LinkedIn Dibobol "Hacker"



Data pengguna situs jejaring sosial LinkedIn berhasil dibobol hacker(peretas) dan telah dipublikasikan ke internet. Pihak LinkedIn sendiri mengatakan, lebih dari enam juta password (kata kunci) penggunanya "terancam".


Para peretas memublikasikan file berisi kata kunci bersandi tersebut ke sebuah forum web Rusia.

Mereka mengundang komunitas peretas untuk membantu memecahkan kata kunci itu.

LinkedIn, yang memiliki lebih dari 150 juta pengguna, mengatakan, kata kunci yang telah bocor itu tidak lagi berlaku.

Pengguna akan menerima e-mail dengan instruksi untuk mengubahnya, kata LinkedIn. Mereka akan menerima e-mail kedua dengan detail lebih lanjut mengenai mengapa perubahan itu penting dilakukan.

Kekhawatiran tentang privasi

Berita ini muncul ketika LinkedIn dipaksa memperbarui aplikasi telepon seluler mereka setelah peneliti keamanan menemukan adanya cacat privasi.

Skycure Security mengatakan, aplikasi telepon itu mengirim data kalender tanpa sandi ke server LinkedIn "tanpa sepengetahuan" pengguna.

Informasi itu termasuk nota pertemuan, yang kerap berisi informasi seperti nomor telepon dan kode kunci untuk panggilan telepon konferensi.

LinkedIn menjawab, aplikasi itu tidak lagi mengirim data dari seksi nota pertemuan kalender Anda.

Perusahaan tersebut juga menekankan bahwa fungsi kalender adalah fitur pilihan.

Namun, para peneliti yang menemukan cacat itu mengatakan, transmisi data ke server LinkedIn dilakukan tanpa "indikasi jelas dari aplikasi ke pengguna".

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di blog perusahaan itu, Kepala Produk Mobile LinkedIn Jeff Redfern mengatakan, informasi lebih lanjut telah ditambahkan ke aplikasi sehingga pengguna mendapat gambaran lebih jelas tentang transmisi dan penggunaan informasi mereka.

Thanks to KOMPAS

Android Arahkan Tren Internet Indonesia ke "Mobile"



Perkembangan Internet di Indonesia menunjukkan kecenderungan ke arah penggunaan lewat perangkat mobile. Platform Android dari Google dianggap turut berkontribusi pada kecenderungan tren tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Country Head Google Indonesia Rudy Ramawi dalam acara Startup Asia Jakarta 2012, pada Kamis (7/6/2012). 

"Sampai saat ini, jumlah pengguna Android di tanah air sudah meningkat hingga 2,5 kali lipat dibandingkan 2011," jelas Rudy tanpa merinci angka persisnya.

Dari angka penggguna internet Indonesia yang pada akhir tahun lalu mencapai angka 55 juta orang -naik sekitar 13 juta dibanding tahun sebelumnya- semakin banyak yang mengakses internet dari perangkat mobile. 

"Internet mobile akan menjadi lompatan besar berikutnya dan telah menjadi tren yang pertumbuhannya sangat pesat, " ujar 

Menurut Rudy, hal tersebut didukung oleh ketersediaan alat dan jasa akses internet yang terjangkau untuk semua orang.

Google Indonesia akan berusaha meningkatkan angka tersebut secara lebih jauh. Salah satu upaya yang sudah dilakukan antara lain kerjasama dengan produsen ponsel Nexian untuk menyediakan perangkat Android yang murah meriah.

Orang nomor satu Google Indonesia ini menjadi pembicara pertama Startup Asia Jakarta 2012 yang digelar selama dua hari (7-8 Juni 2012) bertempat di Annex Building komplek Wisma Nusantara, seputar Bundaran Hotel Indonesia .

Selain konferensi antara pendiri startup dengan para stakeholder, acara ini memiliki rangkaian acara Startup Arena, di mana akan dipilih 20 startup untuk menjalankan berbagai tantangan yang nantinya berkesempatan mendapat uang tunai 10 ribu dollar AS.

Thanks to KOMPAS


Tinggal 'Googling', Virus "9 Juli" Terdeteksi



Kini, pengguna tak perlu takut ancaman virus "9 Juli" yang dikabarkan akan memblokir akses internet pada tanggal tersebut.



Situs mesin pencari Google ikut andil memperingatkan pengguna dalam mendeteksi virus DNS Changer yang bisa membuat komputer "bingung," sehingga pengguna komputer menganggap koneksi internetnya terputus setelah tanggal 9 Juli 2012.

Jika komputer pengguna terinfeksi DNS Changer, lalu melakukan pencarian menggunakan Google, maka Google akan memberi tahu bahwa komputer tersebut dijangkiti DNS Changer.

"Peringatan itu akan muncul di atas kolom kata kunci usai pengguna melakukan pencarian," kata teknisi keamanan Google, Damian Menscher kepada situs teknologi CNet.

Peringatan yang diberikan Google berbunyi: "We believe that your computer is infected with malicious software. If you don't take action, you might not be able to connect to the internet in the future." yang artinya kira-kira demikian, "Kami percaya komputer Anda terinfeksi program jahat. Jika Anda tidak mengambil tindakan, Anda mungkin tidak dapat terkoneksi internet di masa mendatang".

Google membantu pengguna mendeteksi DNS Changer


Program jahat DNS Changer ditemukan pada akhir 2011 lalu. FBI dan kepolisian Estonia berhasil menangkap beberapa penjahat cyber yang membuat program DNS Changer, dari perusahaan asal Estonia, Rove Digital, pada 8 November 2011.



Rove Digital menyebar virus DNS Changer dengan berbagai cara, mulai dari mengunjungi situs tertentu ataupun mengklik iklan online, yang semua itu telah disisipi DNS Changer.

Program jahat yang menyerang sistem operasi Windows dan Mac ini, mengubah konfigurasi Domain Name Server (DNS) pada komputer korban, dan diam-diam mengerahkannya ke server DNS palsu. 

Saat ini masih ada jutaan komputer yang terinfeksi DNS Changer dan masih terhubung ke DNS palsu tersebut.

FBI sudah menyita server DNS palsu Rove Digital dan masih mengamankannya. 

Karena ini adalah server DNS palsu yang sarat akan tindakan penyalahgunaan, penegak hukum Amerika Serikat memerintahkan FBI untuk mematikan server DNS palsu Rove Digital itu pada 9 Juli 2012. Dan, akibatnya, korban-korban DNS Changer akan kesulitan mengakses internet.

Tanpa DNS, pengguna internet tidak bisa mengakses sebuah situs dengan mengetik alamat situs web-nya, misalnya google.com, facebook.com, atau wordpress.com. 

Untuk mengakses situs web tanpa DNS, pengguna harus memasukkan alamat Internet Protocol (IP) situs yang ingin dikunjungi. Masalahnya, tidak semua pengguna internet tahu dan hafal nomor IP address situs web. Hal ini akan membuat seseorang kesulitan mengakses internet, atau berpikir bahwa jaringan internetnya terputus.

KompasTekno sebelumnya telah membuat sebuah artikel tentang cara untuk mengetahui apakah komputer Anda terinfeksi DNS Changer atau tidak. Silakan klik tautan ini.

Thanks to KOMPAS